The Local Wisdom And The Preservation Of Cultural Values As Cultural Identity In Cireundeu Traditional Village KEARIFAN LOKAL DAN PELESTARIAN NILAI-NILAI BUDAYA SEBAGAI IDENTITAS KAMPUNG ADAT CIREUNDEU Section Articles

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Selina Putri
Nickytha Nurcahya
Supriyono

Abstract

ABSTRACT. Cultural tourism is a strategic sector that not only contributes to economic development but also plays a vital role in preserving local cultural identity. Kampung Adat Cireundeu in Cimahi City, West Java, is a unique region for maintaining Sundanese ancestral traditions and possessing strong local wisdom, particularly concerning self-sufficient lifestyles and cultural preservation. One of the main attractions of Kampung Adat Cireundeu is its uniqueness in local non-rice food consumption, namely cassava, which serves as the staple food. This practice represents a profound local wisdom in sustainable environmental management. This uniqueness is embodied in the Nasi Rasi (cassava-rice) tradition, which has been passed down through generations and symbolizes the community's food sovereignty (or food self-sufficiency). Furthermore, visitors can enjoy the serene and peaceful atmosphere, away from the city's hustle and bustle. The houses in this village still retain traditional Sundanese architecture, utilizing natural materials such as wood and bamboo. From a cultural perspective, Kampung Adat Cireundeu regularly hosts various traditional ceremonies and cultural activities, such as Seren Taun (harvest thanksgiving). They also feature traditional arts performances like Angklung and Calung. Additionally, the Karinding musical instrument, made of bamboo slats, is played by placing it on the lips and flicking the tip with a finger, producing a humming and vibrating sound. Its traditional purpose is to ward off field pests, but Karinding also functions as an entertainment instrument and a ritual tool.


 ABSTRAK. Pariwisata budaya merupakan sektor strategis yang tidak hanya berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam pelestarian identitas budaya lokal. Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi, Jawa Barat, merupakan wilayah yang istimewa karena mempertahankan tradisi leluhur sunda dan memiliki kearifan lokal yang kuat, terutama dalam hal pola hidup mandiri dan pelestarian budaya. Salah satu daya tarik utama Kampung Adat Cireundeu adalah keunikan dalam konsumsi pangan lokal non beras, yaitu singkong, sebagai makanan pokok utama, serta menjadi kearifan lokal dalam pemgelolaan lingkungan yang lestari. Keunikan tradisi Nasi Rasi (beras singkong). Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun dan menjadi simbol kemandirian pangan masyarakat Cireundeu. Selain itu, pengunjung juga dapat meningkatkan suasana asri dan tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Rumah-rumah di kampung ini masih mempertahankan arsitektur tradisi sunda, menggunakan bahan bahan alami seperti kayu dan bambu. Dari sisi budaya, Kampung Adat Cireundeu juga sering mengadakan berbagai upacara adat dan kegiatan budaya seren taun (syukuran hasil panen), pertunjukan seni tradisional seperti Angklung dan calung adapun alat musik karinding yang terbuat dari bilah bambu yang dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir dan disentil bagian ujungnya dengan jari menghasilkan suara yang berdengung dan bergetar, Tujuannya untuk mengusir hama di ladang. Selain itu karinding juga berfungsi sebagai alat musik hiburan dan alat ritual.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##